2:39 pm - Fri, Apr 18, 2014
6 notes

Pesan Pukul Satu Pagi

Saat kau bangun nanti, aku mau kamu bahagia. Aku mau syukurmu tak habis-habis dan hangat memelukmu sehingga kau tak perlu kedinginan saat selesai mandi. :)
Saat kau bangun mungkin aku masih tertidur. Dengan senyum sisa semalam. Dengan bahagia yang ada kau terlibat di dalamnya. Mimpiku tak ada karena nyata ternyata lebih bahagia.
Saat kau bangun nanti, akan ada rindu menyusup ke hatimu. Mungkin terlalu pagi, tapi aku tahu kau menikmatinya.
Saat kau bangun nanti aku cuma mau kau tahu, bahwa aku takkan lagi pergi kemana-mana. ❤

Sent 01.37 a.m
via whatsapp

6:55 am - Tue, Apr 15, 2014
4 notes

Cerita Tentang Tangis

image

Dulu, jauh sebelum aku mengerti bahwa tak apa untuk menjadi cengeng, air mata begitu sulit tumpah. Air mata yang kutahu adalah pertanda lemah. Sewaktu kecil mereka yang menangis diolok-olok dengan sebutan cengeng. Yang lebih parah lagi, anak laki-laki yang menangis malah dipanggil banci. Sejak saat itu, menangis kusembunyikan dalam-dalam di koper berkunci di dalam hatiku. Aku hanya menangis jika tak ada orang. Aku hanya menangis saat mandi sambil kubiarkan air mata luruh bersama air dari pancuran.

Aku tumbuh menjadi perempuan yang tidak cengeng meski memiliki sakit hati yang parah terhadap kehidupan. Tidak menangis membuat hatiku beku dalam benci yang aku nina bobokkan sendiri. Tidak menangis menjadikanku kurang manusia yang isi kepalanya digerogoti benci terhadap apa saja yang tak kuanggap pantas.

Suatu hari kulihat adikku menangis. Tangisan anak kecil sama menderitanya seperti ledakan bom yang membinasakan manusia. Aku benci sejadi-jadinya. Aku benci kenapa adikku menangis sedemikian puasnya tanpa rasa bersalah. Setelah menangis kulihat adikku tertawa bahagia. Tak ada kesal pada wajahnya. Tak ada juga yang menganggap dia cengeng. Kata mama, menangis itu perlu. Perlu untuk mereka yang memerlukan saja. 

Aku sering melihat nenekku menangis. Semasa hidupnya nenek sering menangis untuk hal-hal yang ringan. Menonton televisi saja bisa membuat tangis harunya tumpah. Tak ada yang menuding nenek cengeng walaupun dia menangis sesering itu. Nenek menangis untuk hal-hal haru dan membahagiakan dirinya. Suatu hari nenek menangis karena aku meraih rangking satu. Masih kuingat tangis harunya yang membiru bahagia. Dia menangis bukan karena bersedih. Satu-satunya tangisan sedihnya adalah menangisi rasa sakit saat penyakit membuatnya menyerah dan berpulang dalam rengkuh Tuhan.

Mamaku tak sering menangis. Bahkan saat nenekku meninggal tak kulihat mamaku menangis seperti saudara-saudaranya yang lain. Entah dimana mamaku menyembunyikan air matanya. Mungkin keras hidup telah lelah menguras air matanya yang tak sempat kusaksikan. Entahlah. Kata mamaku menangislah kalau perlu. Kalau tak perlu jangan menangis. 

Sekarang aku tahu benar nikmatnya menangis. Ada kelegaan yang tak bisa dituliskan setelah air mata tumpah setelah kejadian-kejadian gila yang menuai rasa sakit. Aku menyesal dulu tak menangis sesering ini. Menangis membuatmu mengeluarkan emosi dengan cara yang kautahu. Menangis menjadikanmu manusia tanpa takut dituding lemah.

Menangis berarti memerdekakan emosi yang tak mampu dilisankan kata-kata.

Sekarang aku menangis untuk hal yang memang perlu kutangisi. Tak ada ragu dan takut. Tak ada gengsi disebut cengeng dan dicibir lemah. Aku akan menangis untuk segala kebaikan. Dan tak ada yang salah dari sebuah tangis. Karena aku akhirnya sadar, bahwa setelah menangis, luka dan sakit luruh bersama air mata.

7:54 am - Tue, Apr 8, 2014
6 notes

Merayakan Tigapuluh

Hari ini aku merayakan kita. Tidak dengan sebuket bunga atau ciuman-ciuman memburu di ranjang kita yang gelisah. Kebersamaan kurayakan dengan kebersamaan yang kita curi dari segala sibuk yang tak bisa pergi. Ada kau di seberang mejaku adalah cukup yang takkan bisa terganti. Ada senyummu yang menulari senyumku adalah sesederhananya bahagia yang selalu kita bagi. 

Hari ini kita merayakan kekitaan. Merayakan komitmen yang sudah kita bangun dari kepercayaan yang teguh dan perjuangan yang tak mudah rapuh. Di dalamnya ada sabarmu yang menggunung. Di dalamnya ada raguku yang terkadang begitu mengganggu. Meski begitu di dalamnya juka terpatri kasih sayang yang semakin ke sini semakin besar. Sayang yang tumbuh subur di antara hati serupa gurun yang mendadak ditumbuhi tanaman.

Hari ini kita merayakan tigapuluh hari yang menakjubkan. Ada peluk dan cium yang membara di sana. Ada erangan dan desah yang saling bertindih yang membakar pori-pori kita. Ada kesalku yang menebar benci. Ada kebodohanmu yang membuatku hilang kendali. Ada tawa yang memekak sunyi. Ada tangis yang sengaja tumpah dalam haru kita sendiri. Ada kau yang cinta aku. Ada aku yang mencandumu. Ada kita yang melahirkan kita. Ada kita yang mengutuk segala pisah.

Sayang, mari rayakan segala rasa yang menari di atas panggung kebersamaan. 

Mari biarkan tigapuluh hari menua menjadi tigapuluh minggu, bertumbuh menjadi tigapuluh bulan dan semakin besar menjadi tigapuluh tahun yang terus berkali lipat jumlahnya.

Padamu tak kuminta banyak. Hanya berbagi hangat di kala hati mendingin ngilu. Hanya sepotong sayang saat rasa menghilang dalam lalu. Hanya sebuah pulang di saat pikiranmu meragu.

3:14 am - Sat, Apr 5, 2014
3 notes

Definisi Tersesat

Tulisan ini didedikasikan untuk semua orang yang membantu saya dalam proses ketersesatan ini. I love you, people!

Saya memaki diri saya sendiri yang bisa-bisanya tersesat di Kuala Lumpur yang nota bene sudah saya kunjungi enam kali. Well, I can’t read a map. I tried and failed! 

Jadi ceritanya waktu itu saya traveling (lagi) untuk kesekian kalinya ke Kuala Lumpur setelah menghabiskan waktu yang panjang di Melaka. Saya sengaja mampir di Kuala Lumpur untuk leyeh-leyeh dan bertemu beberapa teman yang sudah lama tidak saya temui. Dan jadilah dari Melaka Terminal bus yang saya tumpangi sampai ke Terminal Puduraya. Kenapa Pudaraya karena terminal inilah yang paling dekat dengan Backhome Hostel tempat saya akan menginap. Tapi ternyata semuanya tidak sesederhana itu, teman-teman. 

Dari directions yang saya print dari hostelworld.com, jarak dari Terminal Puduraya ke Backhome Hostel hanya lima menit saja. Susah payah saya memelajari peta dan meyakinkan diri bahwa menemukan hostel-keren-nan-kece ini tidak akan sulit. Tapi apa daya Tuhan dan semesta sedang ingin bercanda. Lima menit yang saya perkirakan akan sangat mudah ini justru membawa saya berkelana hingga hampir satu jam. Hebat? Oke mana tepuk tangannya?

Sore itu Kuala Lumpur diguyur hujan. Terminal Puduraya juga terlihat lengang. Melengganglah saya dengan backpack yang berat dan keyakinan bulat sebulat matahari. Belum sampai dua menit saya sudah dilanda kebingungan. Alhasil, bertanyalah saya kepada seorang bapak yang mukanya jauh dari kesan pembunuh atau psikopat atau apapun itu yang mengerikan. Setelah menjelaskan dengan Bahasa Melayu yang sungguh mendayu, saya pun melanjutkan perjalanan di antara becek dan lecek.

Bapak itu menjelaskan bahwa saya harus berjalan lurus dan setelah menemukan simpang pertama saya harus belok kanan. Jadilah saya mengikuti arahannya walau di peta yang saya print sungguh sangat berbeda. Dan *eng-ing-eng* saya nyasar lagi. Sambil celingak-celinguk mencari orang yang tepat untuk ditanya, tak lupa saya mem-pukpuk diri sendiri agar tidak menyerah dengan memanggil taksi. Kali ini orang yang saya tanya adalah mas-mas (atau datuk-datuk) yang wajahnya mirip Sultan Kelantan. Dengan senyum manisnya dia menjelaskan bahwa saya salah jalan. Tentu saja dalam hati saya ingin menggorok leher bapak yang udah ngasih petunjuk yang salah. Menurut mas ini, saya harus balik arah dan belok ke arah sebelah kiri. Oke fine! FINE FINE FINE!

Entah siapa yang bisa saya percayai sekarang, peta inikah, bapak tadikah, atau mas-mas Sultan Kelantan ini? Sempat terbersit jangan-jangan mas ini ingin nyulik saya. Sengaja dia nyuruh saya belok ke gang itu terus pas nyampe di sana teman-temannya udah ready nyulik saya. Ish serem! Tapi saya seketika sadar kalau saya tidak kaya dan cantik. Tak ada alasan mas ini untuk melakukan itu. Dan helo, ini bukan film India dan mungkin pikiran gila ini datang karena saya sedang kalut dan lapar saja.

Setelah mengikuti arahan mas tadi akhirnya saya…. ya kamu benar! Saya nyasar lagi. Tapi kali ini saya merasa sedikit lega karena di dekat saya ada dua polisi yang sedang berdiri anteng. Ya, at least mereka bisa ngasih petunjuk yang jelas dan akurat. 

Saya: “Permisi, kalau mau ke Jalan Tun H S Lee lewat mana ya?”

Polisi 1 : “Oh kamu jalan terus dan persimpangan kedua belok kanan.”

Saya: “Oh. Oke.” *sambil dalam hati polisi ini ganteng juga ya*

Polisi 2 : “Eh salah. Ke arah kiri terus dan belok di persimpangan pertama aja. Lebih dekat.”

Polisi 1 : “Eh, lewat sini lebih dekat.”

Polisi 2 : ‘Tidaklah. Lewat sini lebih dekat.”

Saya : *bingung*

Setelah perdebatan panjang antara Polisi 1 dan Polisi 2, saya memutuskan untuk mengikuti petunjuk Polisi 2. Kenapa? Karena Polisi 1 itu ganteng dan penuh pesona. Saya nggak yakin dengan ketampananya. Oke ini bohong, mari lanjutkan perjalanan yang sudah amat melelahkan ini. Akhirnya sampailah saya pada persimpangan yang dimaksud Polisi 2 itu. Tiba-tiba saya sudah sampai di Petaling Street yang ramai dan penuh sesak manusia-manusia dari seluruh dunia. Saya buka kembali peta dan ternyata saya sudah berjalan terlalu jauh dari Jalan Tun H S Lee. *sigh*

Karena terlalu lelah akhirnya saya memutuskan untuk duduk di depan toko-yang-saya-tak-ingat-namanya. Dalam kelelahan, kelaparan dan kekesalan dengan diri sendiri saya hampir saja menyerah dan memutuskan memanggil taksi sampai seorang bapak India yang sungguh-lebat-brewoknya nyamperin saya. Setelah ngomong basa-basi sebasi alasan mantan ngajak balikan akhirnya saya memutuskan untuk lanjut lagi berjalan. Dengan bekal petunjuk dari bapaknya saya optimis bakal bisa sampai ke Backhome Hostel. Eh, bapaknya tadi sempat bilang saya mirip orang Tamil. Sampai sekarang saya nggak tahu itu hinaan atau pujian.

Sampai di persimpangan saya nggak mau sotoy dan bego lagi dong. Di depan CircleK saya nanya ke mbak-mbak India yang lagi asik ngemut es krimnya. Si mbak ini mengaku dia orang baru di KL jadi kurang tahu soal jalan. Jadilah dia memanggil 8 orang temannya yang lagi jajan di CircleK. Yes guys, 8 girls! Bersembilan mereka bolak-balik peta yang aku kasih sambil berdiskusi dalam Bahasa-India-atau-Tamil-atau-apapun itu. Dari hasil diskusi akhirnya saya harus berjalan lurus sampai persimpangan ketiga lalu belok kiri. Dan sebelum berpisah mereka ngasih pelukan. Ya, saya mendapakan pelukan dan dukungan dari 9 orang asing yang baru saya kenal. Terharu. Tisu mana tisu?

Jangan kamu kira petualangan nyasar saya akan berhenti sampai di sini. Oh belum, guys! Setelah adegan pelak-peluk  tadi saya masih nyasar dan sempat bertanya dengan koko-koko penjual pulsa yang mukanya mirip Andi Lau versi gemukan dikit, terus sempat juga berhenti di Restoran India dan nanya ke ibu-ibu yang suaranya mirip Lata Mageskar dan juga ngakak disko setelah diledekin jomblo sama bapak tua China yang isengnya seampun-ampun.

Kaki saya mau lepas dari badan dan beban backpack saya rasanya semakin berat saja. Dalam keputusasaan yang parah akhirnya saya numpang istirahat di tempat mas-mas penjual bunga sembanyang Hindu. Mas-masnya bersedia membantu saya dengan manggilin ibu-ibu yang punya salon sebelah tokonya. Dan siapa sangka, ibu ini adalah kunci dari segala kunci yang menyebabkan saya akhirnya sampai ke hostel dengan badan remuk redam.

Sesampainya di hostel saya menyadari betapa tolol dan gobloknya saya dalam membaca peta. Di hostel yang sunguh keren dan bikin saya bahagia ini saya juga tersadar bahwa nyasar membawa satu pengalaman gila dalam hidup saya. Tersesat membawa saya dari satu manusia ke manusia lain dengan sagala macam kebaikan yang mereka berikan. Bayangkan seandainya saya tidak tersesat, saya tidak mungkin bertemu random orang yang bersedia membantu saya (walaupun akhirnya membuat saya semakin tersesat. :D). Kalau saya tidak tersesat saya tidak mungkin mendapat pelukan dan canda dari orang asing. And I am glad I didn’t call taxi!

Kalau saya tersesat tidak mungkin saya berinteraksi dengan manusia berupa-rupa dengan luar biasa.

Dan segala capek dan kesal karena tersesat seketika hilang saat saya tersadar bahwa Tuhan memang gemar bercanda dengan cara yang tak pernah bisa ditebak. Dan segala capek dan kesal semakin hilang saat saya bertemu dengan cowok Spanyol di hostel yang matanya sebening samudera. Ha-ha-ha.

Pertanyaan? Ada berapa orangkah yang sudah saya temui selama tersesat? Hitung sendiri ya. :))

6:49 am - Tue, Mar 11, 2014
7 notes

Jatuh Ki(cin)ta

image

Saat aku menulis ini aku sedang menggenggam hatiku demikian eratnya. Aku takut hatiku melompat dan tak bisa kembali ke tempat asalnya. Debaran yang mengumpat namamu tak berhenti sedari tadi. Memberikan sesak yang terlalu pasti untuk kuingkari. 

Tak pernah kurasakan cinta yang sebesar ini. Terlalu besar untuk mampu kusimpan sendiri. Terlalu sakti dengan hanya kudiamkan dan perlahan mati disapu angin. Pernahkah kaurasakan getar-getar yang menjalari tubuhmu di seluruh penjuru raga. Hatimu penuh, isi kepalamu berputar-putar memainkan harmoni cinta yang sangat kautahu, lidahmu ingin meneriakkan satu nama. Suaramu ingin menjeritkan kebahagiaan yang tak mampu ditolak semesta. Sementara senyummu tak berhenti melengkuh dan membuat bibirmu kebas dalam rasa yang tak mau kaukikis habis. Dan sepasang matamu mengalirkan air mata yang kaurindukan. Karena bertahun-tahun hilang diredam harapan yang patah arang.

Semua itu terjadi tidak dalam satu tepukan. Ada bulan-bulan yang panjang tempatku menyembuhkan lara. Ada kau yang menungguku di bawah pohon teduh bernama kesabaran. Sampai suatu malam kuserahkan segala yang kupunya hanya padamu. Hanya kepada kau yang satu tempatku pulang kapanpun kumau.

Malam itu peluh kita belum lagi hilang. Aku terbaring di sampingmu setengah telanjang. Kita saling menatap bulan pada mata kita sendiri. Ada jeda panjang yang memberi harmoni kekaguman atas saling memiliki. Ciuman luruh bersama cinta yang bermekaran melalui pori-pori. Pelukanmu mengerat. Air mataku tumpah dan menjadikanku si lemah yang bahagia karena diselamatkan cinta yang selama ini kutunggu.

Aku tak pernah segila ini. Aku tak pernah sewaras ini. Aku tak pernah gila dan waras secara bersamaan seperti hari ini. Kau adalah gila yang kucandu. Kau adalah waras yang memang semestinya begitu. Dan sekarang, saat hatiku masih bergejolak ingin lompat dari tempatnya, bahagiaku mengalir pada hatimu. Pada genggam tanganmu tempatku melebur aman.

Aku tak pernah sejatuh ini. Aku tak pernah sekuat ini. Aku tak pernah menginginkan diriku seluar biasa ini. Dan sayang, jika benar cinta sungguh menggilakan izinkan aku tinggal. Jika kata mereka cinta membuatku tersesat, jelaskan pada dunia bahwa kini aku tak lagi ingin diselamatkan.

6:59 am - Thu, Mar 6, 2014
10 notes

Terima Kasih

Aku sedang mengingat-ingat mengapa pada akhirnya kita bertukar rasa. Sore ini aku sedang dibungkus hangat. Mungkin mereka yang tak percaya cinta akan menudingku berlebihan. Tapi sayang, kali ini aku takkan lagi bohong. Aku takkan lagi menjunjung tinggi gengsi yang selama ini selalu kubiarkan tumbuh dan bersemi.

Hatiku sedang menghangat. Dalam debar yang berujar ‘kau, kau, kau’.

Ini mungkin tak sekali saja terjadi, tapi sore ini debarannya semakin menggila. Memberikan energi paling indah yang bisa kurasakan dari kaki hingga puncak kepala. Inilah jatuh cinta itu, sayang. Inilah kekuatan yang melebar dan melebur di dalam sepasang hati kita yang dipasung kebersamaan.

Jangan tanya kenapa pada akhirnya aku mengakui bahwa aku jatuh dan tak mau berdiri lagi pada rasa yang terlanjur lahir. Jangan tanya kenapa kaulah segala ingatan di antara sibuk, gelisah, rindu, marah, bahagia yang bercampur akhir-akhir ini. Jangan tanya kenapa aku selalu mendamba pertemuan dan mengutuk laknat perpisahan yang menyebabkan kita berjauhan. Jangan tanya kenapa aku membiarkan kau memilihku. Jangan tanya kenapa semesta berbaik hati memeluk kita dalam doanya. Jangan tanya sayang. Karena beberapa jawaban justru datang dari diam yang dipermainkan rasa.

Sore ini aku kehilangan daya untuk tidak memikirkanmu. Memikirkan apa-apa yang telah kau lakukan. Kau satu-satunya yang tak pernah bosan menuturkan cinta. Kau satu-satunya yang tak pernah berhenti menemukan segala indahku. Aku adalah segala yang indah pada matamu. Meski dalam marah, meski dalam sedih, meski dalam segala air mata, meski dalam lelah setelah kita bercinta. Kau bilang aku adalah ‘cantik yang tak pernah habis’. Dan tahukah kau bahwa ada ribuan mawar yang bermekaran di hati meski kau tak mampu melihatnya. Di saat yang sama aku jatuh cinta lebih dalam lagi. Terperosok dalam lorong-lorong kebahagiaan yang aku sendiri tak tahu namanya.

Sayang, biarkan kali ini aku tak melibatkan segala gengsi. Aku hanya ingin kautahu bahwa aku mencintaimu dalam segala kurang dan lebih. Dalam segala tawa dan konyol kita, dalam segala sedih dan isak kita, dalam segala menang dan kalah, dalam segala bangkit dan jatuh,

Izinkan aku menjadi awal dan akhirmu. Menjadi di antara rindu dan perihmu. Aku takkan pernah pergi terlalu jauh lagi untuk mencari apa itu kebahagiaan. Karena pada akhirnya aku sadar, ada seseorang yang berjuang untuk menciptakan kebahagiaan yang istimewa hanya untukku. 

Terima kasih telah menjadi dirimu. 

10:56 am - Fri, Feb 28, 2014
5 notes

Sepotong Sore

Perempuan menatap deretan huruf pada buku yang sedang dibacanya. Di depannya kekasihnya menatap dirinya dalam kagum yang membuncah. Sore itu langit sedang tak berbahagia. Matahari luruh pada mendung yang menutup kebahagiaan mereka yang mencandu senja.

Perempuan itu masih bertumpu pada bukunya. Menikmati sore yang tenang di gerai kopi yang dia kutuk rasa kopinya. Kali ini dia tak terlalu bawel soal rasa. Kebahagiaan bersama sang kekasih ternyata memaklumi rasa sebal yang dihasilkan kopi tak sempurna.

Gerai kopi ini berganti manusia. Ada yang datang dan tak sedikit yang pergi. Kursi-kursi kosong berganti menjadi isi. Dan yang tadi penuh berisi kini berganti kosong seiring dengan cangkir-cangkir kosong yang kehilangan tuannya.

Perempuan itu menikmati kopinya ditemani senyum sang kekasih. Dia menatap cinta di hadapannya dari cangkir kopi. Ada bahagia baru yang tak bisa dia paparkan. Tapi dia tahu bahwa Tuhan sedang menghadiahkan dia cinta baru dari patah hati kemarin yang berujung duka yang panjang.

Sisa-sisa kopi menjadi saksi dari kencan mereka berdua yang lebih banyak diisi diam. Bukan, bukan tidak bahagia. Tapi diam kali ini adalah diam dalam kekaguman atas kebahagiaan saling memiliki. Saling dimiliki. Bahkan sepasang cangkir yang mendingin pun tak kehilangan gairahnya saat perempuan dan kekasih saling melebur hangat di antara meja.

Tak ada lagi senja disapu mendung. Gelap telah datang dan menghadiahkan bintang yang bertabur di langit malam. Perempuan dan kekasihnya saling menggenggam seperti takkan bertemu lagi. Peluk dan cium dituai seiring malam yang makin tinggi.

8:59 am - Sat, Feb 22, 2014
4 notes

Untuk Kau Yang Di Seberang Meja

Kopimu tinggal setengah. Senyummu penuh seperti matahari musim semi. Matamu, matamu tempat semua bahagia menari-nari dalam satu wujud: aku.

Kita berbagi percakapan diiringi lagu-lagu cinta kampungan yang maknanya habis dilucuti zaman. Ada bahagia yang bertebaran dari lantai hingga langit-langit kafe ini. Dinginnya suhu tak lagi terasa karena kau memberikan hangat pada cinta yang banyak. Membuatku tak butuh selimut untuk menghalau cuaca dingin setelah hujan.

Kau sibuk dengan bahagiamu: aku. Meja di antara kita mendadak sedemikian luasnya. Karena padamu jarak sedikit apapun membuatku gelisah. Aku tak ingin perpisahan walau sebatas hasta. Aku ingin kau melekat tanpa perlu digapai. Ya sayang, aku senorak itu.

Kau yang di seberang meja. Menyeruput sisa kopi yang tak lagi nikmat. Tawamu memecah debar. Seiring rasa syukur yang mengalir tak habis-habis.

Dan suatu hari nanti cinta memuai tak semudah ini, maukah kau berjanji untuk berjuang menemukan hangatnya lagi?


Untuk kau, yang terlalu sakral untuk kusebut namanya.


#30HariMenulisSuratCinta
#Hari22

10:28 am - Thu, Feb 20, 2014
10 notes

Diam

Maaf, hari ini tak ada surat. Luka terlalu berbicara banyak. Sedang Tuhan menghadiahkan bisu pada hati yang teriak.


#30HariMenulisSuratCinta
#Hari20

5:55 am - Wed, Feb 19, 2014
7 notes

Surat Untuk Diri Sendiri

Suratku kali ini kutulis dengan hati yang kehiangan rasa sakitnya. Semuanya habis dimakan masa beserta isi kepala yang berantakan seperti tumpukan tinja di toilet umum.

Suratku ini kutulis dengan bara yang sama ketika rindu padamu mengalir tanpa henti. Memilin janji-janji di gulungan ombak yang berdebur memecah subuh. 

Aku sedang kurang merasa manusia akhir-akhir ini. Aku rindu kau yang tak berhenti menyerocos tentang satwa-satwa yang lebih mulia dari manusia. Rinduku terkadang berubah menjadi macan. Mengaum dan mencakar lewat relung hati terdalam. Memberi luka yang sama seperti perpisahanku dengan kenangan di stasiun. Ah, andai kau ada di sini sekarang. Sudah kurebahkan semua gelisahku pada dadamu yang serupa bantal. Aku lelah menjadi baik. Aku lelah menjadi manusia berhati ular yang melenggak-lenggok di balik gemerlap kebaikan.

Aku merindu dirimu yang dengan jujur menelanjangi kesombonganku satu-satu.

Surat ini mungkin membuatmu bingung. Aku juga menulisnya dengan kadar bingung yang sama. Kepalaku yang dulu kau bilang bianglala kini tak lagi mampu berputar. Semuanya statis dalam irama mistis yang tak seorang pun terhibur saat mendengarnya. 

Aku rindu kau yang melucuti kepura-puraanku di atas topeng bernama moral.

Sebelum surat ini semakin mengalir ke hal yang tak semestinya aku cuma mau kau tahu bahwa padamu segala kebohongan kehilangan kekuatannya. Cuma kau yang mampu melihatku sebagai diriku yang serupa binatang tanpa pandangan rendah dan namun indah. 

Cuma padamu aku tak perlu menjadi manusia tapi apa saja yang membuatku berharga.

#30HariMenulisSuratCinta

#Hari19

Following
Likes
More Likes
Install Headline