2:05 pm - Mon, Oct 13, 2014
2 notes

Secangkir Teh: Surat Untuk Hari Keduaratussepuluh

Siang yang biasa saja. Aku masih mengantuk karena jadwal tidur yang kacau. Hati masih berbunga-bunga meski kemarin pertengkaran dengan kekasih tak dapat dielakkan. Dalam rindu yang tiba-tiba mampir, sepotong pesan panjang tiba dengan sukses memecah siang yang malas. Dari kekasih.

Dear Tika,
Aku mulai menikmati secangkir teh tanpa gula beberapa hari terakhir. Sembari mengingat kejadian yang sudah-sudah, rasanya beberapa kejadian yang telah kita lewati membongkar lembaran ingatanku tentang kamu.

Dua ratus sepuluh hari penuh haru.

Hari ini aku berusaha mengingat apa-apa saja yang telah aku tuliskan dalam lembaran memori. Ingatanku tidak pernah sebagus seperti ketika aku mengingat bagaimana semesta membuat kita satu.

Aku menikmati teh tegukan pertama. Teh tanpa gula. Terlintas di kepalaku kata-kata George Orwell, seorang pakar teh yang mengutuk seseorang yang menikmati teh dengan gula. George mengatakan bagaimana mungkin seseorang menyebut dirinya pecinta teh sejati dengan menambahkan gula kedalam cangkir tehnya?

Bagaimana aku menyebut diriku sebagai orang yang mencintaimu kalau aku tidak menerima sebenar-benarnya dirimu tanpa polesan sedikitpun?

Aku kembali mengangkat cangkir yang berisi teh. Sebelum tegukan kedua, ketika bibirku dan bibir gelas itu menyatu, aku melihat bayangan yang terpancar dari teh yang tengah ku teguk. Teh yang berwarna keruh itu membantuku melihat apa yang sebenarnya tengah aku nikmati. Terkadang, aku tidak butuh cermin hanya untuk melihat siapa sebenarnya kamu. Iya. Kamu seperti secangkir teh yang sedang aku teguk. Sederhana. Menghangatkan.

Kali ini tegukan ketiga. Dua kali tegukan lagi cangkirku akan segera kosong. Tidak ingin segera habis, aku meneguknya sedikit demi sedikit. Tegukan kali ini memanggil lagi ingatan tentang suatu hari dimana kau mengatakan bahwa bagaimana ketika cinta memilih pergi dan hanya kenangan yang mungkin kembali. Adalah kekosongan setelah tidak lagi bersama yang membuat seseorang mencintai kebersamaan itu.

Mengingat tentang hal itu, aku memilih untuk menikmati saat ini. Saat dimana aku tidak perlu khawatir akan sesuatu hal di masa depan.

Tegukan terakhir. Cangkirku kosong. Aku meletakkan gelas teh pada tatakannya.

Secangkir tehku sudah habis. Ingatan tentangmu saat aku meminum teh tadi masih melekat erat di kepalaku.

Tik, ada banyak hari dan tak sedikit pula teh yang kuhabiskan sebelum hari ini. Aku juga sudah tidak bisa mengingat berapa sendok gula yang terjun kedalam cangkirku. Satu hal yang ingin aku lakukan adalah menikmati secangkir teh sambil menunggu senja menjemput matahari nanti.

Yours.

3:24 pm - Sat, Sep 13, 2014
6 notes

Memaknai SeratusDelapanPuluh

image

Untuk pertama kalinya air mataku jatuh. Kali ini bukan air mata bahagia, tetapi luka yang lahir mungkin tak semestinya. Beberapa hari setelahnya giliran air matamu yang jatuh. Didorong beban hidupmu yang terlalu berat air matamu jatuh satu-satu membasahi pundakku. Kau dan lukamu luruh di situ. Untuk pertama kalinya kusaksikan kau menjelma begitu lemah. Tak ada lagi sosok tegar yang bertopeng itu. Kau melemah. Kau tampak manusia. Dalam luka dan tangismu yang luruh di pundakku, aku makin mencintaimu.

Untuk pertama kalinya aku tak pernah menyesali air mata yang lahir di hubungan kita. Air mata ternyata memang harus hadir untuk membuat tawa dan bahagia kita bermakna. Air mata sungguh memanusiakan. Dan ajaibnya membuat cinta kita berenang semakin dalam. Padamu kutemukan makna bahwa cinta bukan hanya tentang membahagiakan, tetapi juga menerima sebagian luka yang pasangan kita hadirkan. Bukan melukai tetapi berbagi agar satu yang terluka merasakan setengah luka terangkat darinya. Kau  tak perlu menyesal telah membuatku menangis atau menangis di pundakku. Aku yang harusnya berterima kasih. Karena air mata, aku tahu bahwa senyum, tawa, bahagia, jenaka sungguh tinggi maknanya.

Di hari keseratusdelapan puluh pelukmu masih saja menjadi gravitasi. Tempatku jatuh tanpa memar dan terus menagih. Akhirnya aku sadar bahwa kita adalah sepasang bawang merah yang lapisannya membuka satu-satu. Memberi perih menjengkelkan di hubungan kita sekaligus kenyataan yang bisa kita terima. Kau dengan segala lemahmu masih saja menyempurnakan aku dengan segala kuatku yang penuh kekurangan. Padamu kumaknai hidup dengan hati-hati, tanpa gesa seperti para penghibur yang mengharap jadi bintang panggung di atas bumi.

Keseratusdelapanpuluh cinta tumbuh tak semakin tinggi. Tapi semakin kuat hingga akarnya kini hampir mencengkram perut bumi. Karena sayang, kita tak perlu meraih langit jika saat topan datang cinta mendadak tumbang. Yang kita perlukan adalah tumbuh semestinya dengan kekuatan yang tak semua orang mampu menerka. Cinta kita sesederhana itu, seajaib itu.

Sayang, bukan sempurnamu yang membahagiakanku, tapi kelemahanmu yang membuatku berjuang agar kau dan kita mampu kusempurnakan.

Aku, yang mencintai lemahmu.

11:16 am - Sun, Aug 31, 2014
2 notes

Cerita Tentang ‘Yang Pertama’

Semua orang mungkin takkan pernah lupa dengan segala hal yang dilakukannya pertama kali. Pertama kali jatuh cinta, pertama kali patah hati, pertama kali gajian dan mungkin pertama kali melakukan perjalanan. Buat saya, melakukan perjalanan untuk pertama kalinya adalah momen yang yang takkan mungkin saya lupakan seumur hidup. Sebagai anak yang seumur hidup tinggal bersama orang tuanya, momen traveling pertama adalah titik yang membawa saya mengenal diri sendiri lebih jauh. Beruntung Air Asia terlibat dalam momen tak terlupakan ini.

1. Pertama Kali ‘Terbang’

Percaya atau tidak, Air Asia adalah maskapai yang pertama kali saya naiki. Pengalaman terbang kali pertama ternyata memberi rasa ngeri yang seru. Waktu itu Bali menjadi tujuan perjalanan saya pertama kali ke luar Sumatera. Sebagai orang yang berdomisili di Medan, Bali tentulah menjadi sebuah pulau indah yang tak terjamah. Jauhnya bukan main. Dengan berbekal tiket promo saya menuju Bandung dan dari Bandung saya akan lanjut ke Denpasar. Hati berbunga-bunga karena (akhirnya) saya berhasil juga naik pesawat dan merasakan terbang (yang katanya) menabrak awan-awan. Selain itu, saya juga akan menemui sang kekasih yang sudah beberapa bulan tidak saya temui. Ya, long distance relationship memang semenyebalkan itu. 

Keberanian saya kumpulkan penuh. Saya yang duduk sendirian di bangku dekat jendela tampak takjub dengan pemandangan di luar yang di dominasi biru dan putih. Di samping saya duduk seorang ibu paruh baya yang menjadi teman ngobrol yang asik. Obrolan kami berguir dari kisahnya tinggal di Bali sampai kekagumannya tentang Air Asia yang memungkinkan semua orang naik pesawat. “Air Asia murah banget. Zaman dulu hanya orang kaya yang bisa naik pesawat. Orang kayak kita nggak bisa,” kata si ibu sambil membolak-balik majalah yang disediakan. Diam-diam saya mengamininya juga. Kalo nggak ada Air Asia mungkin saya si mahasiswa kere ini takkan mungkin bisa beli tiket pesawat. :)

Sepuluh menit sebelum mendarat di Bandara Husein Sastranegara jantung saya berdegub kencang. Bercampur perasaan excited dan haru yang ditimbulkan dari aroma perjalanan yang tak bisa saya paparkan. Naik pesawat ternyata menyenangkan meski saat boarding dan landing adalah dua momen dimana roh saya lepas dari raga. Oh iya, waktu itu saya juga satu pesawat sama penyanyi tersohor Indonesia yang takkan saya sebutkan namanya. Lantas, bagaimana saya bisa lupa dengan perjalanan naik pesawat saya yang pertama. :)

2. Pertama Kali Ke Luar Negeri

Manusia mana yang nggak pengin ke luar negeri? Menghirup udara negeri yang bukan Indonesia Raya, merasakan menjadi asing di sebuah tempat baru, berkelanan sesuka hati tanpa ada yang tahu siapa kita di negeri asal. Beradasarkan keingintahuan itulah saya dan ketiga teman saya akhirnya memberanikan diri melakukan perjalanan ke luar negeri. Tak jauh-jauh memang, Thailand menjadi tujuan dikarenakan tergiur pantai-pantainya yang tersohor. Setelah memantapkan hati dan berunding panjang, kami memutuskan membeli tiket Medan - Kuala Lumpur (bukan Thailand) karena pada saat itulah tiket termurah yang bisa kami dapatkan. Rencananya dari Kuala Lumpur perjalanan akan kami lanjutkan via kereta ke Thailand. 

Dari kami berempat hanya satu orang yang pernah ke Kuala Lumpur. Kebayang bagaimana repot dan meriahnya empat orang cewek dengan empat kemauan plus pengalaman yang serba minim melakukan perjalanan ala backpacker. Air Asia menjadi saksi bisu betapa meriahnya empat perempuan ini dan empat boneka Teddy Bear-nya. Kami memang kampungan. Tapi apalah arti kampungan demi sebuah kebahagiaan yang tak terbeli, kawan.

Kuala Lumpur ternyata bukanlah Medan meski ada aroma Melayu yang sama kentalnya. Kuala Lumpur membuka mata saya bahwa tidak semua orang Malaysia menganggap Orang Indonesia itu sebelah mata seperti cerita-cerita orang yang mampir di telinga saya. Perjalanan saya di Kuala Lumpur menyenangkan sekali. Nggak ada tuh yang menganggap kami TKW dan memperlakukan kami secara tidak menyenangkan. Segelintir kisah ‘seram’ tentang Malaysia seketika kandas setelah saya mengunjungi negaranya sendiri. Kuala Lumpur dan kami sepertinya cukup ramah menyambut kami. Meski kurang puas menjelajah Malaysia, kami tetap excited dengan Thailand yang akan menyambut dengan cerita yang tak kalah serunya.

Bangkok riuh sekali. Herannya hal itu tidak menyurutkan langkah kami untuk berkeliling mengeksplorasi. Kota besar yang satu ini sungguh turistik. Teman-teman saya yang hobi belanja melakukan shopping marathon selama empat jam di Chatuchak Weekend Market yang tersohor itu. Kawan, baru sekali ini saya melakukan shopping empat jam tanpa henti sementara kaki yang pegal rasanya tersingkirkan dengan gairah purba wanita: belanja. Di sini juga untuk pertama kalinya saya mencicipi kecoa garing yang dioseng-oseng. Serangga penguasa kamar mandi ini rasanya asin dan saat kembalinya ke tanah air saya tak lagi takut pada kecoa karena saya sendiri berhasil melahapnya. *evil grin*

Selain Bangkok, kami juga sempat melipir ke Krabi dan Phi Phi Island yang tersohor. Baru kali ini saya melihat pantai yang indahnya bukan main. Di sini juga saya melakukan snorkeling untuk pertama kalinya plus disengat ubur-ubur untuk pertama kalinya juga. Dengan semua keindahan yang saya saksikan saya merasa kecil sekali. Saya merasa sangat kecil di hadapan Tuhan. Apalah saya di semesta yang luas ini. Segala yang sombong dalam diri saya luruh ke laut diiringi dengan rasa syukur yang tak henti-henti.

Saya tidak pernah mengira bahwa perjalanan akan mengubah hidup seseorang. Tak pernah saya bayangkan sebelumnya seseorang dari keluarga seperti saya mampu ke luar negeri meski tak terlalu jauh. Bayangkan, di keluarga saya hanya saya yang memiliki paspor. Mama, papa dan adik-adik saya tidak pernah bepergian dengan pesawat. Jangankan ke luar negeri, ke Pulau Jawa saja mereka tak pernah. Perjalanan saya ini memberi saya haru yang banyak. Hanya saja pada saat itu saya malu untuk menitikkan air mata di depan teman-teman saya. Mungkin tanpa Air Asia perjalanan hanya mampu dilakukan oleh mereka yang berkecukupan. Tanpa berlebihan saya hanya mau bilang kalau Air Asia benar-benar mewujudkan impian banyak orang dan mereka benar, “semua orang bisa terbang”. 

6:53 am - Tue, Aug 12, 2014
5 notes

Surat Selasa Pagi: Hari Keseratuslimapuluh

Sadarku belum penuh betul. Setengah diriku masih terjerembab dalam sisa mimpi semalam. Kuraih ponselku dan kutemukan sebuah pesan panjang dari kau yang lima bulan ini menjadi penghuni tetap relung-relung hati.

Kepada Mustika T Yuliandri,

Tik, aku tidak sedang mabuk ketika menuliskan ini. Ini pukul satu lewat satu dan bulan diatas sana sedang bulat sempurna. Sebenarnya, aku tidak membutuhkan waktu yang khusus untuk mengungkapkan perasaan ini padamu. Setiap hari adalah saat yang tepat untuk mencintaimu.

Kamu masih ingat kali pertama aku menyatakan cinta padamu? Waktu itu malam tahun baru dan aku sedang mabuk berat. Aku menghubungimu dan mengucapkan selamat tahun baru. Kepalaku sedang berputar dan anehnya yang ada dikepalaku saat itu adalah kamu. Kita membicarakan banyak hal yang sialnya tidak terekam baik di kepalaku. Setelah beberapa menit ada jeda dalam pembicaraan kita dan aku memecahnya dengan mengatakan “Tik, I love you”. Aku mengatakan lagi kepadamu bahwa apa yang dikatakan seseorang dalam keadaan mabuk adalah sebenar-benarnya kejujuran. Kau bilang aku ngawur, padahal saat itu aku sedang jujur dalam keadaan tersungkur.

Keesokan harinya, kamu menghubungiku dan menanyakan keadaanku. Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Kamu juga menegaskan kembali kepadaku tentang percakapan tengah malam waktu itu. Waktu aku sedang mabuk dan mengutarakan cinta padamu. Kamu menanyakan kembali tentang kebenaran hal itu dan aku membalasnya dengan diam.

Ya, aku membalasnya dengan diam dan saat itu juga aku mengatakan itu benar adanya. Kepada hatiku sendiri dan itu tidak diketahui oleh siapa-siapa sebab aku tidak bercerita kepada siapapun.

Tik, kamu tahu tidak pada saat aku menyatakan itu dalam keadaan mabuk, aku sedang tidak berbohong. Aku takut mengatakan padamu dalam keadaan sadar karena aku malu. Aku malu karena kamu akan menganggapku terlalu dini untuk hal itu. Urusan hati memang aku tidak ahli. Setidaknya, keadaan mabuk itu menutup rasa malu untuk sementara waktu.
Aku tahu, pada waktu itu segalanya tidak akan mudah. Masih ada perasaanmu yang dibayangi oleh cinta lamamu. Masih ada keraguan yang menetap dihatimu dan mengusahakan agar kau tiak tahu hal ini. Ternyata, mencintaimu dalam diam itu tidak mudah.

Tik, kamu tahu tidak aku berusaha untuk tetap kelihatan tegar dan baik-baik saja ketika cinta lamamu menghubungimu di sela-sela waktumu bersamaku? Pada saat itu aku tetap berusaha tersenyum dan menegaskan kepada diriku untuk tetap menegakkan kepala. Aku pikir setiap orang memerlukan waktu untuk berdamai dengan masa lalunya.

Satu tahun aku menunggu untuk sesuatu yang aku pikir dan aku rasa ini sia-sia. Berhadapan denganmu tidak cukup mengandalkan perasaan. Logika juga perlu digunakan. Kau adalah perempuan yang berbeda dari kebanyakan.

Tik, kamu tahu tidak sempat terlintas di kepalaku, apa aku berhenti saja ya? Jika aku berhenti, aku akan kembali ke kehidupanku seperti biasa. Asyik dengan diri sendiri.
Tapi apakah dengan berhenti memperjuangkanmu semuanya akan baik-baik saja? Ternyata tidak Tik. Disaat aku memutuskan untuk tidak peduli padamu dan kembali pada duniaku, disaat itulah rasa itu bertambah besar. Ternyata waktu memupuk kesabaran dan kesabaran itu bertambah seiring dengan penolakan secara tidak langsung darimu.
Aku ingin kamu bersamaku. Tapi aku tidak mau ambisi yang terlalu besar itu menghancurkanku.

Aku menunggu. Menunggu sampai kamu benar-benar selesai dengan masa lalumu dan kamu menemukan rumah barumu. Pelukku.

Ini kebersamaan yang ke seratus lima puluh dan aku tidak lupa saat pertama kau memintaku untuk menjadikan pelukku rumah bagimu. Waktu itu kamu memelukku dan aku melihat ketulusanmu. Ketulusan yang dibangun dari rasa sabarku yang menahun.

Sampai hari ini, aku masih tidak menyangka bahwa aku, si mabuk yang waktu itu memintamu sekarang merasakan kamu benar-benar di pelukku. Kau bilang pelukku adalah rumah bagimu. Dalam hati aku mengucap “Terima kasih sudah menjadikanku suatu kepulangan bagimu”.

Tik, aku tidak akan pergi jauh. Aku tahu, kini pelukku adalah rumah bagimu. Sebagaimana layaknya rumah. Aku tidak berniat untuk memindahkannya.

Aku, rumahmu. Yang mencintaimu.

Hatiku menghangat. Air mataku mengalir. Ada bahagia yang tak dapat kututurkan. Selasa pagiku tak pernah seistimewa ini.

Ditulis oleh seseorang berhati luas. Yang kucintai tanpa batas.

9:11 am - Mon, Jul 14, 2014
10 notes

Tentang Ramadan

image

Aku bukan orang yang religius. Salat saja masih bolong-bolong dan ke mesjid saja jarang. Tapi sepertinya Ramadan menyentuh semua hati termasuk aku yang kata orang ‘jauh dari Tuhan’. Ramadan menebar rindu akan masa kanak-kanakku yang begitu seru. Aku adalah satu dari anak mushola yang mengisi langit Ramadan dengan ayat-ayat suci. Gemanya terdengar di seluruh kampung. Saat itu tadarus adalah keharusan yang seru. Bagaimana tidak, kami bersama-sama membaca ayat suci yang didengar seluruh orang di kampung. Para orang tua bangga karena anaknya dengan fasih melantunkan ayat Tuhan. Bagian seru lainnya adalah makanan yang dihadiahkan pada kami oleh tetangga secara bergantian. Sedapnya bukan kepalang.

Aku tumbuh dengan kebebasan yang penuh. Quran yang sedari SD menjadi pedoman hidup dan dibaca setiap malam lambat laun mulai tergantikan oleh buku-buku karangan manusia. Meski begitu aku tak pernah lupa cara mengaji berikut dengan tajwid yang masih kuingat pasti. 

Ramadan selalu menggiring masa kanak-kanak lebih dekat. Sahur yang riuh bersama keluarga lengkap, buka puasa yang selalu dinanti serta tarawih yang selalu menebar cerita-cerita ajaib setiap hari. Mulai dari kaki pegal hingga para orang tua yang mengamuk karena kami selalu berisik di baris bagian belakang.

Tarawih tahun ini memberi nyeri yang dahsyat. Sungguh ajaibnya waktu berganti sehingga orang-orang yang kuhafal wajahnya kini tak lagi tampak berbaris di baris pertama. Saf pertama yang selalu diisi nenek-nenek berwajah ramah kini berganti para remaja yang tak lagi kukenal wajahnya. Nenek-nenek baik hati yang menemani Ramadanku telah pulang dipanggil Tuhan. Untuk pertama kalinya aku begitu merindukan wajah-wajah renta yang selalu menoleh ke belakang dan berbisik “sssttt„” saat aku dan teman-temanku mulai berisik setelah salam. 

Sungguh ajaib waktu mengubah keadaan. Tarawih menjadi begitu lain saat aku harus mengisi saf paling depan bersama orang-orang tak kukenal di kiri dan kanan. Mushala kecil ini kini tak lagi sama. Tak ada tangan-tangan penuh kerutan yang kusalam penuh rindu saat tarawih usai. Tak ada senyum-senyum penuh tulus di balik mukena yang tak lagi putih warnanya. 

Baru kini kusadari kepergian orang-orang terkadang begitu mampu menyakiti. 

Langit Ramadan masih penuh ayat-ayat Tuhan. Dari kamarku masih bisa kudengar anak-anak mengaji dengan tajwid yang keliru. Ingin rasanya aku kembali ke masa dulu dan menjadi satu di antara mereka yang mengaji tak sempurna itu. Lalu pulang hampir tengah malam dan berdiskusi tentang apa saja dengan nenekku yang selalu menungguku pulang. 

Nenekku pulang kepada yang Khalik. Nenek-nenek di saf pertama juga telah pulang kepada yang Khalik. Tarawih menjelma lain, waktu menebar nyeri meski Ramadan tetap saja memberi rindu yang sama. Rindu akan Tuhan yang sebenarnya tak pernah pergi kemana-mana.

10:55 am - Tue, Jul 8, 2014
12 notes

Menggenggam Seratusduapuluh

Hari ini genap seratusduapuluh hari aku mencintaimu.Cinta kita tumbuh subur dengan semestinya.Walau dalam menjalaninya tak jarang kaki kita tersandung kerikil yang menguji sabar dan debu-debu nakal membuat langkah kita tak seimbang.

Kau mencintai dengan caramu yang selalu kusuka. Meski terkadang pertengkaran menjadi selingan dalam cinta yang sedemikian ajaibnya,  aku tetap mau melewati seratus dua puluh hari kedepan bersamamu. Hanya padamu.

Kau tak sempurna.Ada banyaksifatmu yang kukutuk dan kubenci sedemikian nistanya.Walau jika hadirmu tiba-tiba tak ada segala yang kubenci itu menjelma rindu-rindu menjengkelkan. Saat itu aku tahu bahwa kau dan segala kurangmu adalah sepaket kebahagiaan yang kumau. Kau, yang tak sempurna itu adalah sepasang sayap yang membuatku terbang tinggi tanpa melupa pulang. Karena sekarang pulang bagi kita adalah pelukan.

Padamu aku menjadi diriku sendiri yang ajaibnya lebih baik. Saat kau menatapku lekat, sepasang bola matamu memantulkan aku yang lain. Aku yang lebih indah. Entah mengapa aku menjelma lebih indah dalam matamu. Atau cinta yang memang menyebabkannya begitu?

Dalam kebersamaan kita bertumbuh. Kau yang berusaha sekuat tenaga membuatku bahagia. Kau yang dengan susah payah membuat sedihku sirna dan segala egoisku terkikis dalam masa yang sedemikian singkatnya. Padamu tak ada yang sia-sia. Padamu membuat segala sulit mendadak mudah asal genggam tanganku tak kau lepas dan pelukanmu tetap kau jaga hangatnya.

Aku adalah siberuntung yang tahu diri. Kau adalah si beruntung yang diberkati. Kita berdua beruntung dipertemukan takdir. Perlahan jatuh cinta sehingga membuat dunia menjadi taman bermain menyenangkan hingga berpisah rasanya mendadak tak mungkin.

Ada seratusduapuluh hari saat namamu yang selalu kusebut di dalam doa. Ada kebersamaan kita yang kurapalkan di setiap aku berbincangdengan Sang Pencipta. Di seratus dua puluh hari ini tak lagi kuminta banyak. Genggamlah tanganku saat kau berjalan santai, berlari tergesa-gesa atau duduk tersungkur di saat lelah. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu pulang dan merasa bahwa kapanpun dan dimanapun kau akan selalu menemukan rumah.

Yang mencintaimu,

Aku.

6:51 am - Tue, Jun 10, 2014
8 notes

Menyelami Sembilanpuluh

Kekasih, terima kasih telah mengizinkanku menyelami sisi lain hidupmu. Kutemukan segala kau yang baru. Kutemukan kita yang lain yang membuat kebersamaan ini indah meski tak mudah. 

Kekasih, jangan ragu untuk menyelami segala rasa yang mampir di sepasang hati kita yang hangat. Jangan pernah kau tolak rindu yang memberi perih, jangan pernah kau kutuk sakit hati yang menjadikan hidupmu semakin kuat.

Kekasih, ini adalah hari sembilanpuluh. Ada berpuluh-puluh malam dimana kecupmu yang mengiring tidurku. Ada puluhan pesan cinta yang membuat senyum pertamaku setiap hari. Ada belasan pertengkaran, ada belasan kesal dan sedih kita. Tapi atas nama cinta, kita masih bersama sejauh ini.

Hatimu samudera, akulah penjelajah. Kuarungi hatimu yang terlampau luas. Kuselami isinya dan kutemukan keindahan bernama kekitaan yang membuat air mata bahagiaku mendadak tumpah. Hatimu samudera dan akulah penjelajah berani yang tak pernah menyerah.

Kekasih, masih kuingat kali pertama kita berbagi kecup. Terlalu terburu-buru dan tak mampu kunikmati dalam pagut. Tapi, hingga malam kesembilan puluh masih belum bisa kulupakan saat kita melebur satu. Ada gugupmu di situ, ada senyum maluku yang membuat sore begitu cemburu.

Ini adalah sembilanpuluh pertama. Kuselami kau sebagaimana kau selami aku yang tak sempurna. Jangan pernah menyerah atas segala yang sedang kau perjuangkan. Karena bagaimanapun, kita adalah kebersamaan yang lahir bukan karena ketidaksengajaan.

Aku mencintaimu. Selalu.

6:02 am - Thu, May 8, 2014
11 notes

Mensyukuri Enampuluh

Hari ini hati kembali menghangat. Ada kebersamaan yang memercik memberi syukur yang dibiaskan kebahagiaan. Pagi ini tak ada tanganmu yang kugenggam atau kecupmu yang mendarat di bibir. Tapi mengetahui kalau kita masih saling memiliki adalah satu dari segala indah yang terlanjur lahir di bumi.

Semesta adalah saksi yang tak berdiam diri. Dia merekam segala perjuanganmu untuk meraih aku yang dulu hancur dalam kegagalan. Kau satukan segela kecewa yang dulu mampir menjadi keutuhan yang memberi harapan. Kau, kekasihku yang tak kenal lelah adalah berkah yang dihadiahkan semesta untukku yang dulu pernah ditemani luka.

Kita masih bersama dalam hari-hari yang semakin banyak jumlahnya. Untuk itu tak ada yang lebih ajaib dari menikmati ritme hidup yang membuat kita semakin saling cinta.

Terima kasih untuk mencintai setiap kekuranganku yang takkan pernah sempurna. Terima kasih untuk selalu tak marah jika aku mengeluh ini-itu yang membuat hidupmu tak mudah. Terima kasih untuk selalu menggenggam tanganku meski satu dunia berpaling menjauh. Terima kasih untuk segala sabar yang kaupikul meski hatiku kadang jatuh dan rapuh. Terima kasih menjadi orang pertama yang mencundangi matahari dengan sapa selamat pagi. Terima kasih untuk tak menyerah meski jalan kita kadang tak mudah.

Kau, yang hatinya terlalu luas untuk kuarungi adalah keajaiban yang takkan pernah lahir dua kali dalam hidupku. Untuk semua yang indah dan siksa, aku berterima kasih. Jangan menyerah untuk kita meski dunia terkadang tak memihak di setiap langkah.

Selamat hari keenampuluh. Tetaplah menjadi satu-satunya yang mencintaiku dengan hati penuh yang seluruh.

7:25 am - Tue, May 6, 2014
9 notes

Putus Cinta

Ada masa dimana aku hanya berbaring hampir telanjang di atas tempat tidur yang di kelilingi barang-barang yang terdampar tidak pada tempatnya. Dan di tengah kekacauan yang kalian kira menyesakkan itu, ada hal yang lebih kacau lagi memorak-morandakan pikiran yang kusut. Dalam keadaan setengah telanjang yang jauh dari definisi indah, seikat pikiran kusut menjelma bijak.

Waktu itu aku sedang putus cinta. Atau baru sadar kalau aku putus cinta padahal mungkin cinta sudah lama pergi dari hati yang sungguh kurang ajar ini. Ternyata putus cinta terkadang membuat manusia termotivasi untuk bunuh diri. Maaf kepada semua orang yang pernahku olok-olok. Kalian benar teman, putus cinta itu sesaknya sungguh parah. Lebih sesak dari memakai bra dengan ukuran dua kali lebih kecil dari ukuran dada kita. 

Air mata tumpah tak henti-hentinya. Mata bengkak seperti siput yang ketabrak kerikil sehingga kompres pun tak mampu meredakan bengkaknya. Pikiran kalut. Gelisah bergulung-gulung membenturkan sakitnya dari hati ke kepala, ke hati lagi ke  kepala lagi dan begitu terus sampai kehilangan jati diri.

Di saat gila seperti ini, bunuh diri adalah opsi. Teman, bunuh diri itu bangsat sekali. Di saat kau sedemikian sedih, dia menjelma sesosok pria tampan yang ingin sekali dihampiri. Biadab, bangsat, bajiangan, brengsek, asu!

Sedih tak juga reda. Dan aku masih setengah telanjang di antara kamar yang sama hancurnya seperti perasaan. Dalam jiwa yang rapuh tiba-tiba aku teringat Tuhan. Tuhan memang paling tahu menampar manusia tak tahu diri sepertiku ini dengan ingatan-ingatan yang membuat hati menggelepar.

Tiba-tiba sepotong pita rekaman dimainkan di kepala. Memori tentang hidup dan masa-masa indah kembali diputar diiringi heningnya harmoni kesepian sendiri. Aku mengingat betapa banyak cinta yang lalu-lalang. Aku merasakan kembali sentuhan tangan, bibir, peluk, tawa, tangis dan cinta yang begitu banyak. Aku menyaksikan kembali masa lalu yang kalut. Ada berkali-kali putus cinta yang pernah aku lewati. Ada ribuan tetes air mata yang tumpah yang ujung-ujungnya membuat aku bangkit lagi.

Dunia menjelma baik-baik saja. Hasrat ingin bunuh diri mendadak hilang keseksiannya.

Pikiran terus terbang ke masa lalu. Senyum keluarga yang bangga tiba-tiba bergerak menyadarkan kesedihan. Kebodohan yang menjelma komedi untuk diri sendiri berubah menjadi satir yang tak mungkin terlupa. Sedihku kehilangan kekuatannya. Putus asaku mendadak lemah tergantikan rasa syukur yang menanti bahagia.

Berani benar aku ingin menghabisi hidup sedangkan Tuhan dengan penuh rahmat memberikan segala indah dengan cuma-cuma. Putus cinta adalah sampah yang tak selalu hadir dalam hidup. Dan dengan keadaan setengah telanjang berlinang air mata serta mata bengkak aku bangkit. Membereskan kamar yang tak punya jiwa dan kembali tersenyum di bawah pancuran kamar mandi yang mendadak sejuk luar biasa.

7:03 am - Tue, Apr 22, 2014
1 note

Melipir Ke Resort World Sentosa Singapore Bersama @PergiDulu

Sebagai manusia yang berdomisili di Medan, tak pernah mengunjungi Singapura sekalipun adalah sebuah hal yang sedikit memalukan. Bagaimana tidak, saya sudah mengunjungi Negara Asia Tenggara lainnya yang nota bene lebih jauh dari Singapura sedangkan ke Singapura yang terhitung dekat saya sama sekali belum pernah. Sebenarnya saya bukan tidak mau mengunjungi Negeri Singa ini. Sudah dua kali saya berencana untuk mengunjungi Singapura tapi selalu batal karena mungkin memang ‘belum berjodoh’.

Dua tahun yang lalu saya merencanakan pergi Singapura dengan seorang teman. Semua telah dipersiapkan sebegitu matang. Sayangnya perjalanan itu harus batal karena dua hari sebelum keberangkatan saya, nenek saya tercinta meninggal dunia. Duka terlalu dalam saya rasakan waktu itu sampai-sampai segala kesenangan tentang Singapura saya kubur dalam-dalam. Tak sampai tiga bulan sejak rencana saya yang gagal ke Singapura, seorang teman menelepon saya dengan suara yang sungguh girang luar biasa. Tanpa babibu si teman tersebut mengatakan kalo dia dihadiahkan orang tuanya menginap di Resort World Sentosa Singapura. Dan karena saya adalah  teman dekatnya maka dia mengajak saya. Yippie! Tanpa banyak mikir saya langsung mengiyakan dan berburu tiket dengan semangat patriot Pancasila. Tapi lagi-lagi sepertinya ini bukanlah rezeki saya untuk berkunjung ke Singapura. Teman saya tersebut diterima kerja dan tidak dizinkan cuti oleh perusahaan barunya. Saya? Tentu saja tidak jadi pergi juga karena merasa tidak asik kalo harus pergi tanpa dia. *nangis darah*

Berbulan-bulan berlalu. Saya juga sudah traveling ke negara-negara lain dan hampir melupakan untuk berkunjung ke Singapura. Tapi hal tersebut musnah saat beberapa hari lalu saya melihat twit di akun @pergidulu. Ada kompetisi menulis di blog yang hadiahnya menginap di Resort World Sentosa Singapore yang sudah sungguh tersohor kekerenannya. Setelah baca syarat ikutan lombanya di pergidulu.com saya tentu dengan semangat mempersiapkan ide yang akan saya tulis. Apalagi hadiahnya sungguh menggiurkan. Selain bisa menikmati apa yang tersedia di Resort World Sentosa Singapore, saya juga traveling-nya nggak sendirian karena ditemani sama Susan dan Adam dari @pergidulu yang selama ini telah banyak menginspirasi saya.

 image

Bayangin aja, kalo seandainya saya menang, saya bisa dengan sesuka hati menikmati atraksi dan wahana yang ada di Universal Studios Singapore. GRATIS. Asal kamu tahu aja ya, “gratis” adalah kata favorit aku selain “peluk”. FYI, aja sih. Nggak hanya universal studio, di Resort World Sentosa Singapore juga  ada SEA Aquarium Marine Life Park dimana ini adalah akuarium terbesar dunia yang menyimpan lebih dari 800 spesies hewan laut. Dan saya bisa ngeliat mereka secara langsung, guys! Belum cukup sampai di situ, saya yang memang doyan banget sama keindahan laut merasa sangat excited banget karena di Resort World Sentosa Singapore ternyata ada Adventore Cove Waterpark yang keren. Bayangin, di sini saya bakalan melakukan petualangan air paling kece dengan menaiki roller coaster hidro-magnetik pertama di Asia Tenggara. It is wow for me!

 image

Kalo kamu pikir apa yang saya sebutkan tadi sudah sebegitu memikatnya? Belum teman-teman, belum. Resort World Sentosa Singapore ternyata memiliki Dophin Interactions Programs dimana saya bisa ketemu langsung sama para lumba-lumba. Eits, tak hanya ketemu di pinggir kolam kayak yang selama ini kamu bayangkan, tetapi saya juga bisa masuk langsung di kedalaman empat meter dan ketemu mereka di kedalaman. Kebayang nggak betapa amazing-nya hal itu, gaes.

 image

Tapi, selain semua keluarbiasaan yang saya sebutkan tadi, keinginan yang tak kalah penting saya lakukan adalah melakukan perjalanan dengan mereka yang memiliki segudang pengalaman. Dan kali ini jika saya beruntung saya akan melakukan perjalanan bersama Susan dan Adam. Baiklah izinkan saya mengaku pada kalian bahwa selama ini saya sudah kepo dan stalk twitter, instagram dan blog kalian ( eh saya juga nonton lho video kalian di YouTube. Hi-hi-hi.)

image

Kalian berdua sangat menginspirasi saya dan mungkin banyak orang untuk melakukan perjalanan bersama pasangan. Alangkah luar biasanya jika saya bisa mendengar cerita langsung dari kalian saat kita bertatap muka. Alangkah menyenangkannya andai kita bisa berbagi dan saya mampu mencuri pengalaman yang bisa kalian bagi. Melakukan perjalanan bersama pasangan adalah mimpi saya (dan mungkin banyak orang). Tidak ada yang lebih membahagiakan berbagi sesuatu yang baru bersama orang yang kita sayangi. Tak ada yang lebih berharga dari mencium aroma laut, menjejakkan kaki di tanah asing dan bertemu orang-orang di perjalanan bersama seseorang tempatmu pulang. Pada Susan dan Adam saya menemukan kebahagiaan bersama bermil-mil perjalanan. Dan semoga suatu hari nanti saya bisa menyaksikan kalian berdua bercerita apa saja bersama saya langsung di seberang meja. 

Doakan saya menang ya! :D

Following
Likes
More Likes
Install Headline